Kenapa kita tidak bersyukur
Di suatu waktu, di suatu tempat, aku seperti
terlahir kembali. Usia yang terus bertambah, kehidupan yang terus bergulir,
semakin menambah mutu hidup ini. Laksana
air mengalir. Satu per satu pencerahan
datang, seiring kesabaran yang terus bertambah dan mengembang. Kehidupan adalah
pembelajaran.
Nun jauh di sana, banyak anak manusia
masih berkubang dengan keluh - kesah hidup dan kehidupan. Persangkaannya menuntun pada kondisi bahwa
dirinya adalah orang yang paling menderita sedunia. Dari dulu hanya sedih dan
duka saja yang diterima. Rasanya tidak ada sebentuk kebahagiaan yang mampir
kepadanya. Rangkumnya; jauh dengan kebahagiaan dan akrab dengan penderitaan.
Adakah kehidupan berwajah seburuk itu?
Dari dulu, orang – orang tercerahkan
selalu menjadi pusat perhatian. Fas’aluu
ahladz dzikri inkuntum laa ta’lamuun.
Bukan karena tabungan harta dan tumpukan kekayaannya, melainkan –
kalimat hikmah - sikap lembutnya terhadap kehidupan ini. Tutur katanya indah.
Gerak – gerikanya menawan. Sikapnya menyejukkan. Pribadinya mendamaikan. Maka,
awam melihat seolah kehidupan selalu berpihak kepadanya. Tak pernah terlihat
sedih, bahagia selalu. Beruntung terus. Tak kenal sial. Tak heran, orang
tercerahkan sekaligus menjadi tempat bertanya. Harapannya berkah mengalir dari
tutur katanya, menyirami hati – hati yang lagi mati, jiwa – jiwa yang tak sadar
diri, sehingga hidup bersinar kembali. Dan selarik indah kata yang sering
terucap dalam menghadapi berbagai masalah hidup ini adalah; kenapa kita tidak bersyukur?
“Ya…, aku mengerti apa yang Anda alami. Tidak
hanya Anda, akupun dulu begitu. Sama. Pernah mengalami hal itu, bahkan lebih dan
mungkin banyak lagi orang lainnya. Sekarang aku akan mengambil satu
kertas putih ukuran A4 yang kosong dan kita lihat apa yang bisa kita lakukan
dengannya. Sekarang, perhatikan apa yang Anda lihat ?”, ucap sang bijak kepada
sang penanya sambil menunjukkan kertas A4 itu kepadanya.
“Aku tidak melihat apa-apa. Hanya
kertas A4. Semuanya putih. Kosong”,
jawabnya.
“Ya, Anda benar.” Kemudian sang bijak
mengambil spidol hitam dan membuat satu titik di tengah kertasnya. Kemudian ia meletakkan
spidol dan mengangkat kertas itu ke hadapan si penanya, seraya berkata, “Nah…, sekarang
aku telah membuat sebuah titik hitam di atas kertas itu. Sekarang apa yang Anda lihat?”.
“Aku melihat satu titik hitam,” jawab si penanya dengan cepat.
“Cobalah pastikan lagi! Apakah benar
yang Anda katakan?” timpal sang bijak.
“Tidak salah lagi, sebuah titik hitam,” jawab si penanya.
“Coba lagi! Pastikan. Benarkah?”
timpal sang bijak.
“Ya, sebuah titik hitam. Tak salah,”
jawab si penanya dengan yakinnya.
“Sekarang aku tahu masalah Anda. Dari
tadi, kenapa hanya satu titik hitam saja yang Anda lihat dari kertas ini? Bukankah
yang hitam hanya sedikit? Yang lainnya masih utuh putih bukan? Sekarang cobalah
rubah sudut – pandang Anda. Menurutku yang kulihat bukan
titik hitam, melainkan tetap sebuah kertas putih meski ada satu noda hitam di dalamnya. Aku melihat lebih banyak warna putih dari kertas tersebut.
Putih yang dominan. Bukan noktah hitamnya. Namun, kenapa Anda hanya melihat
hitamnya saja, padahal itu hanya setitik?” penuturan sang bijak penuh makna.
“Sama dengan kertas putih tadi
gambarannya, bukankah di sekeliling kita juga penuh dengan warna putih, yang
artinya begitu banyak anugerah dan karunia yang telah diberikan oleh Allah
kepada kita dibandingkan dengan noktah hitam berupa mushibah dan bencana? Itulah
perbedaan kita. Itulah yang membedakan,” jelas sang bijak menutup tutur katanya
yang penuh pesona.
“Fabiayyi Aalaa’i Robbikumaa
Tukadz-dzibaan - Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang (bisa) kamu
dustakan?” (QS ar-Rahmaan 13) Bahkan Allah mengulangnya
sebanyak 31 kali dalam surat itu. Begitu mendasar, bersahaja, akan tetapi
banyak mata hati tertutupi awan penghalang dan dilupakan begitu saja dari
kalbu, tuk sekedar mengingatnya.
Dalam hidup, bahagia atau tidaknya
hidup banyak ditentukan bagaimana sudut pandang kita memandang hidup itu kejadian
per kejadian. Tahap demi tahap. Waktu demi waktu. Jika kita selalu melihat titik hitam tadi yang bisa diartikan hanyalah
potongan hidup yang berisikan kekecewaan, kekurangan dan keburukan dalam hidup, maka hal-hal itulah yang akan selalu hinggap dan memenuhi
benak kita. Kekecewaan dan kekecewaan terus yang akan menemani sepanjang waktu. Namun sebaliknya, jika bisa memandang hal- hal yang
positif, yang baik dan membahagiakan dalam hidup ini, hidup memanglah sebuah
pemberian yang tiada duanya. Penuh suka-cita. Penuh warna. Karenanya, janganlah
selalu melihat sebuah titik hitam saja dalam hidup ini? Ingatlah selalu: “Fabiayyi Aalaa’i Robbikumaa Tukadz-dzibaan - Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang (bisa) kamu dustakan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar